1Lynx berlari ke dalam sebuah lorong yang membentuk garis lurus dengan jalan keluar yang tertutup reruntuhan batu. Lynx memastikan monster-monster itu mengejar mereka. Ketika dia merasa cukup jauh, dia berhenti, menurunkan Leena dengan lembut, dan memintanya untuk berlindung di balik batu besar.

“Aku akan mencoba membuka jalan keluar,” kata Lynx.

“Bagaimana caramu melakukannya?” tanya Leena, matanya penuh kekhawatiran.

Lynx tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke Leena. “Percayalah padaku.”

Leena tertegun memandang Lynx. "Apa yang ingin di lakukannya?" Batinnya.

Lynx berdiri di tengah lorong, menatap reruntuhan batu yang menghalangi pintu keluar. Dia mengambil posisi kuda-kuda, mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di samping badannya. Telapak tangannya saling berhadapan seolah dia sedang memegang bola. Lynx sedang berkonsentrasi menghimpun energi.

Leena memperhatikan dengan mata terbelalak. Energi mulai berpusat di antara kedua telapak tangan Lynx, membentuk bola cahaya keemasan yang semakin besar dan berkilauan.

“Ini terlihat seperti… teknik dalam film yang pernah kulihat,” gumam Leena, meskipun dia tahu ini adalah kenyataan.

Monster-monster yang mengejar mereka terlihat semakin mendekat.

"Lynx, mereka sudah dekat!" Teriak Leena khawatir.

"Hyaaa...." Dengan teriakan keras, Lynx mendorong kedua telapak tangannya kedepan, meluncurkan energi yang terbentuk bola itu ke arah reruntuhan. Energi itu meluncur bagaikan roket dengan kekuatan dahsyat, menghancurkan semua yang dilewatinya, dari laba-laba raksasa, makhluk-makhluk buas, batu-batu besar dan menciptakan jalur keluar.

Sebagian monster-monster yang ada di lorong terdorong oleh tekanan kekuatan tembakan itu, terlempar keluar dari gua bersamaan dengan pecahan batu.

Lynx senang, karena latihannya dengan Mochi memberikan hasil yang sangat luar biasa. Selama perjalanan, dia sudah memiliki ide berdasarkan film yang di tontonnya. Dia pernah mencoba melakukannya dan berhasil menghancurkan pepohonan yang dilewatinya.

Lynx segera berlari kembali ke Leena, menggendongnya lagi. “Ayo, kita harus keluar sebelum gua ini benar-benar runtuh!”

Dengan kecepatan luar biasa, Lynx melompat melalui celah yang baru terbuka, membawa Leena keluar dari gua.

Ketika mereka akhirnya mencapai luar, Leena melihat ke arah gua yang mulai runtuh sepenuhnya. Napasnya tersengal, tetapi dia tidak bisa menahan senyumnya.

“Kau… luar biasa,” katanya pelan sambil memeluk Lynx dengan erat.

Lynx yang dipeluk Leena, ikut memeluk erat sambil tersenyum, meskipun tubuhnya jelas menunjukkan tanda-tanda kelelahan. “Kita masih hidup. Itu yang penting.”

***

Matahari yang mulai terbenam memberikan cahaya lembut, menggantikan kegelapan gua yang mencekam. Angin yang sejuk menyapu wajah Lynx dan Leena, membawa kesegaran setelah terperangkap dalam kegelapan dan ketegangan. Dari kejauhan, suara runtuhnya gua masih terdengar, menggema dan terasa seolah-olah memuntahkan semuanya ke luar, tetapi kini, mereka berada di tempat yang jauh lebih aman.

Leena melepaskan pelukannya, namun tangannya masih menggenggam erat lengan Lynx seolah tidak akan pernah melepaskannya. Hatinya berdebar kencang, tidak hanya karena bahaya yang baru saja mereka hadapi, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sudah lama tertahan. Mereka saling bertukar pandang, perasaan yang samar tapi kuat membuncah antara mereka.

"Kupikir, aku tidak akan pernah melihatmu lagi, Lynx." Kata Leena sambil menundukkan kepala.

"Kenapa? Apakah kamu tidak suka bertemu denganku? Aku akan pergi jika kamu tidak suka." Goda Lynx sambil berpura-pura akan pergi.

"Jangan! Jangan pergi!" Kata Leena tiba+riba sambil memeluk lengan kanan Lynx.

Lynx memandang wajah Leena. Rasa rindu terhadap wanita di depannya ini, membuat dia sering memimpikannya. Lynx mendekatkan wajahnya ke Leena dan menciumnya.

Leena yang awalnya kaget menerima ciuman dari Lynx, mulai membalas ciuman. Mereka melepaskan rindu yang melanda selama sekian minggu.

"Huk..huk..." Tiba-tiba sebuah suara terdengar di belakang mereka.

Lynx dan Leena segera membalikkan badan dan melihat banyak orang suka Sinto yang berada di belakang mereka, membuat Leena merasa malu dan wajahnya memerah. "A...Apakah kalian sudah lama disana?"

"Kami baru saja tiba karena mendengar suara keras berasal dari gua. Apakah kalian baik-baik saja?" Kata Maret, pemimpin suku Sinto.

"Iya, kami baru saja tiba dan tidak melihat kalian ciuman." Kata Aliah sambil menundukkan wajahnya malu.

Mendengar kata Aliah, Leena menjadi tambah malu dan salah sikap. Tapi dia segera menyadari sesuatu hal. Segera dia memperhatikan para suku Sinto. Ada 3 orang berpakaian yang berbeda. Salah satunya adalah anak buah komandan Kane, yang menyerang mereka sebelumnya dan sekarang dalam kondisi terikat.

Leena juga melihat seorang wanita tingi cantik, memiliki kulit halus dengan rambut terikat bersama seorang kakek yang terlihat sudah tua namun memiliki tubuh segar bugar.

"Apa yang terjadi Lynx?" Tanya Maret setelah melihat gua tertutup rapat.

"Kamu baik-baik saja Lynx?" Tanya Lala khawatir.

Leena memandang wanita itu dengan sorot mata tajam. "Kenapa dadaku mendadak sakit ya? Apa ada yang salah dengan wanita ini. "

"Kami baik-baik saja. Lala, Kakek Mochi apa kalian sudah kenalan dengan Maret?" Tanya Lynx sambil memandang Maret.

Maret mendekati Lynx dan menatap Mochi. "Kami sudah berkenalan, kami selamat berkat Lala dan kakeknya membantu kami menangkap pria ini."

Lynx lalu memanggil Leena, "dia adalah Lala dan kakek Mochi, bisa dibilang kakek Mochi adalah guruku."

Semua penduduk Sinto termasuk Leena kaget mendengarnya. "Pria kuat seperti Lynx, memiliki seorang guru. Sekuat apa gurunya?" Pikir mereka semua.

Kakek Mochi yang tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman segera menjelaskan, "kalian jangan salah paham. Aku hanya melatih Lynx mengendalikan kekuatannya. Aku sendiri sudah tua renta, tidak bisa berbuat banyak."

"Walau begitu, kakeknya Lala tetaplah penyelamat kami, dan juga gurunya Lynx. Kami sangat berterimakasih." Kata Mochi.

"Lala, kakek Mochi. Ini Leena." Kata Lynx sambil wajahnya terlihat memerah.

Lala yang cerdas dan kakeknya yang berpengalaman segera bisa menebak, siapa Leena bagi Lynx. Lala langsung menggodanya. "Boleh tau Lynx, Leena ini siapamu?"

Wajah Lynx memerah dan bingung menjawabnya, meski mereka sangat dekat dan mengalami berbagai hal, tapi belum ada kepastian status hubungan mereka. "Eh.. anu..." Lynx kebingungan menjawabnya. "Oh ya, kita harus kembali ke perkampungan. Kalian tentu lelah." Kata Lynx mengalihkan pembicaraan.

Leena yang berada di sampingnya, awalnya merasa malu dan jantungnya terasa berdebar kencang. Dia ingin mendengar jawaban Lynx atas pertanyaan Lala. Namun mendengar jawaban yang tidak sesuai keinginan dan mengalihkan perhatian membuatnya merasa kesal dan jengkel.

"Aduh..." Teriak Lynx tiba-tiba karena kakinya di injak dengan keras oleh Leena.

"Lynx benar, kalian pasti lelah. Ayo kita kembali dan beristirahat." Kata Leena sambil menarik tangan Lala pergi.

Terdengar suara Aliah yang reflek tertawa saat menyaksikan perbuatan Leena kepada Lynx. Kepala suku Maret, Karim dan beberapa penduduk yang melihatnya hanya menahan senyum melihat sikap mereka berdua.

"Leena, tunggu!" Teriak Lynx yang ditinggal oleh Leena dan Lala.

"Maaf kepala suku, ayo kita kembali ke ruang pertemuan.Aku akan menjelaskan semuanya di sana." Kata Lynx yang segera berlari mengejar Leena.

Kepala suku menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Ayo kita kembali."

Kepala suku memandang Karim dan memberinya perintah."Karim, atur warga untuk kembali berjaga, dan pastikan tahanan ini tidak melarikan diri. Setelah itu temui kami di ruang pertemuan."

Karim menganggukkan kepalanya, mengarahkan penduduk seperti yang di perintahkan kepala suku, sementara itu Lynx yang mengejar Leena merasa bingung karena di cuekin oleh Leena.

"Leena," Lynx mencoba memanggil Leena, tapi Leena bersikap seolah tidak mendengarnya dan tetap asyik mengobrol dengan Lala. Akhirnya Lynx berhenti dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berbalik menunggu kedatangan yang lain dari arah belakangnya.

"Lynx, sinar apa yang keluar dari gua sebelum runtuh tadi? Apakah para pendatang itu melakukan sesuatu?" Tanya Maret setelah dekat dengan Lynx.

"Sinar itu terasa sangat menakutkan, beberapa pohon patah saat di lewatinya." Kata salah satu tetua.

"Dimana mereka sekarang?" Tanya yang lainnya.

"Lain waktu akan saya ceritakan. Yang pasti mereka semua sudah tewas tertimbun." Kata Lynx yang tidak ingin memberitahu mereka mengenai kekuatan yang dia miliki.
